Manfaat BerDoa

manfaat berdoaDoamustajab2.com kali ini membahas tentang manfaat yang di dapat ketika seseorang berdoa.

Di dalam kehidupan umat, doa adalah tumpuan hidup sehari-hari, maka tidak sedikit yang menjadikan doa itu sebagai gantungan dalam hidupnya.

Hal ini dapat kita lihat dan kita rasakan di saat seseorang atau sekelompok orang akan memulai suatu usaha atau pekerjaan, hati mereka secara spontanitas langsung berbisik, semoga Tuhan memberikan kemudahan serta keberhasilan sebagaimana yang mereka harapkan.

Ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh dan peranan do’a dalam kehidupan manusia di dunia ini. Hal ini diakui oleh Rasulullah dalam sabdanya, “Doa itu adalah mukhul (penggerak) ibadah (kegiatan hidup setiap manusia)“.

Berdasarkan petunjuk di atas, maka doa dapat kita simpulkan ke dalam dua kerangka, Pertama, mengikuti sunnah Allah dan Rasul-Nya, sedangkan kerangka kedua adalah doa itu suatu cita-cita hidup bagi yang berdoa.

Dalam upaya pembentukan pribadi yang kokoh dan kuat dalam menghadapi berbagai peristiwa yang sulit, dan rintangan-rintangan yang sukar diatasi, maka doa dan iman merupakan benteng yang kokoh dan kuat untuk mengatasinya.

Dengan demikian pribadi seseorang tidak mudah menjadi ambruk, akan tetapi dapat bergerak secara sadar dan tetap berpijak pada kaidah-kaidah kebenaran dan nilai-nilai moral.

Demikian janji Allah kepada orang-orang yang selalu mengkikuti petunjuk-petunjuk-Nya dan bersabar (QS. Al-Maidah [5]: 69, QS. Ali Imran [3]: 120, QS. Al-Ahqaf [46]: 13).

Rabb bagi manusia maksudnya adalah Allah sebagai Pencipta, Pengatur, Penguasa, Pendidik dan Pemiliki manusia. Posisi Allah sebagai Rabb berlaku untuk kehidupan dunia ini.

Untuk itu, manusia dituntut untuk selalu patuh dan taat kepada Allah. Patuh dan taat maksudnya adalah agar manusia selalu mengikuti ketentuan-ketentuan Allah (sunnatullah) di sepanjang hidupnya di dunia ini.

Segala sesuatu yang berlaku di dunia ini, semuanya menuruti sunnatulLah dan tak satupun yang bisa keluar dari ketentuan tersebut .

Begitu juga dengan doa, dikabulkan atau ditolak tergantung kepada mampu atau tidaknya seseorang memahami dan mematuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan Allah.

Sebagai contoh, bila kita berdoa agar selalu dalam keadaan sehat wal afiat, doa kita itu akan terkabul, bilamana kita mentaati ketentuan-ketentuan Allah mengenai kesehatan.

Seperti Allah SWT berfirman, “maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya“. (QS. Abasa [80]: 24). Begitu juga Allah berfirman, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkahsyaitan …” (QS. Al-Baqarah [2]: 168).

Jadi, dengan memperhatikan makanan dan minuman adalah cara yang tepat untuk terkabulnya doa agar selalu sehat.

Doa adalah harapan dan cita-cita, doa adalah target hidup yang harus dicapai oleh seseorang, doa adalah taget hidup yang harus dicapai oleh seseorang, doa adalah kesadaran hidup yang harus dipelihara dan ditumbuhkan terus di dalam diri seseorang.

Perhatikan ungkapan doa berikut yang selalu dimohonkan manusia, “Ya Allah… tambahlah ilmu dan pemahaman kami tentang sesuatu. Berilah kami kehidupan yang layak di dunia dan di akhirat kelak.

Anugerahkan kepada kami anak-anak yang berguna bagi nusa dan bangsa dan jadikanlah diri kami ini manusia-manusia yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain”.

Doa atau ungkapan-ungkapan seperti itu, tidak mungkin dapat dicapai oleh seseorang tanpa dibantu dengan usaha keras atau melalui perjuangan yang sungguh-sungguh untuk mencapai
nya.

Allah SWT berfirman, “… Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri …” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11).

Untuk itu menempatkan Allah adalah Rabb, kemudian kita ikuti segala ketentuan-ketentuan-Nya (sunnatullah) adalah jalan yang harus dilalui dan diikuti dalam berdoa dan menempatkan Allah adalah Ilah manusia satu-satunya, kemudian lebih mengutamakan perintah dan larangan-Nya, adalah syarat mutlak untuk meraih kemenangan dan kedamaian.

MANFAAT BERDOA

Syekh Sayyid Tantawi, syaikhul Azhar di Mesir, merangkum manfaat doa itu dalam tiga poin:

PERTAMA:
Doa berfungsi untuk menunjukkan keagungan Allah swt kepada hamba-hambaNya yang lemah. Dengan doa seorang hamba menyadari bahwa hanya Allah yang memberinya nikmat, menerima taubat, yang memperkenankan doa-doanya.

Allah swt. berfirman: …atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati-Nya (QS. An Naml:62).

Tak ada satupun anugerah yang bisa diberikan kecuali oleh Allah swt yang Maha Pemberi, yang membuka pintu harapan bagi hamba-hamba-Nya yang berdosa sehingga sang hamba tidak dihadapkan pada keputusasaan.

Bukankah Allah swt berjanji akan selalu mengabulkan doa hamba-hambaNya? “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. (QS Ghafir: 60)

Janji Allah untuk mengabulkan doa kita merupakan tahrid (motivasi) untuk bersegera berbuat baik, dan tarbiyah (mendidik) agar kita mengakui dan merasakan nikmat Allah .

sehingga jiwa kita semakin terdorong untuk selalu bersyukur. Sebab rasa syukur itu pula yang mendorongnya untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah.

KEDUA :
Doa mengajari kita agar merasa malu kepada Allah. Sebab manakala ia tahu bahwa Allah akan mengabulkan doa-doanya, maka tentu saja ia malu untuk mengingkari nikmat-nikmatNya.

Bahkan manakala manusia sudah berada dalam puncak keimanan yang kuat sekalipun, maka ia akan lebih dekat lagi (taqarrub) untuk mensyukuri nikmat-Nya.

Hal ini dicontohkan oleh nabi Sulaiman as. ketika berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (QS. An Naml: 35).

Maka Allah pun mengabulkannya. Nabi Sulaiman bertanya kepada semua makhluk siapa yang mampu memindahkan singgasana Balqis ke hadapannya.

Salah satu ifrit yang tunduk atas perintah nabi Sulaiman berkata: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.

Ternyata benar, ifrit dari golongan jin itu datang membawa singgasana Balqis dari Saba (Yaman) ke Syria tidak kurang dari kedipan mata.

Menyaksikan nikmat yang ada di “hadapannya”, nabi Sulaiman lantas berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).

Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

KETIGA :
Doa bermanfaat untuk mengalihkan hiruk-pikuk kehidupan dunia ke haribaan tafakur dan kekudusan munajat ke hadirat Allah swt, memutuskan syahwat duniawi yang fana menuju ketenangan hati dan ketentraman jiwa.

Buah Dari Berdoa

Banyak sekali sifat sifat terpuji yang akan di dapatkan oleh orang yang suka berdoa antara lain:

TAQWA

Tujuan utama dari berdoa adalah untuk meningkatkan Iman dan Taqwa kepada Allah SWT. Karena dua hal inilah, Iman dan Taqwa yang mewarnai dinamika ibadah kita kepada Allah. Iman secara batin, Taqwa secara lahir.

Sebab dalam kehidupan ada batin dan ada lahir, sama kalau kita relevansikan hal ini dengan do’a dan usaha. Do’a tanpa usaha sama dengan sia-sia,

sebaliknya usaha tidak dibarengi do’a kurang berkah. Karena Iman secara batin maka sulit dilihat, sebab adanya didalam sanubari, yang tampak adalah Taqwanya. Loud speaker ini ada suara karena ada stroomnya.

Kita semua tidak bisa melihat stroomnya, tapi bisa merasakan dan dapat mengambil manfaat dari adanya strum tersebut, seperti mendengar suara dari speaker yang dijalankan oleh stroom. Iman pun demikian.

Iman orang itu tak mungkin bisa kita lihat, yang bisa kita lihat adalah taqwanya, ibadahnya, shalatnya, zakatnya, dan hajinya itu yang tampak. Begitulah kira-kira ibadah seseorang itu, digerakkan dari batin, yang tampak lahirnya.

Saya relevansikan tadi dengan do’a dan usaha, untuk mengisi Iman dan taqwa.

Dengan Iman kita berdo’a, dengan taqwa kita berusaha.
Beberapa ulama menguraikan bahwa kalimat taqwa sendiri mengandung sifat sifat terpuji yaitu tawadhu atau rendah hati ( bukan rendah diri ),

qana’ah ( meliputi ridha dan ikhlas),serta wara’atau menjaga batas batas antara yang halal dan haram dengan tidak mengerjakan yang makruh.

Didalam Al Qur’an nul karim diajarkan olah Allah SWT tiga macam do’a khusus untuk keluarga, banyak do’a di Al Qur’an, semuanya ada 66 ayat, dari 66 ayat ini ada tiga do’a yang khusus untuk keluarga.

Pertama di surat Al-Imran ayat 38, yang kedua di surat Ibrahim ayat 40, yang ketiga di surat Al-Furqan ayat 74, inilah konsep do’a yang di ajarkan Allah SWT, didalam Al Qur’an untuk membentuk dan membina keluarga yang bahagia, sejahtera, aman dunia dan akhirat.

Yang pertama di dalam surat Al-Imran ayat 38 :
” Di sanalah Zakaria berdo’a kepada Tuhannya seraya berkata ” Tuhan, karuniakanlah kepada ku keturunan yang baik dari Engkau, Engkau Maha mendengar segalah do’a “.

Jadi bapak dan ibu harus meminta kepada Allah supaya diberi anak ( keturunan ) yang baik.

Yang kedua di dalam surat Ibrahim ayat 40 :
” Tuhan-ku ! jadikanlah aku orang yang tetap mendirikan sholat, juga diantara keturunanku, Ya Tuhan kami ! Kabulkan do’a ku ” !

Kalau yang pertama tadi meminta keturunan yang baik, yang kedua meminta ahli ibadah supaya yang baik tadi menjadi benar, karena banyak orang baik belum tentu benar, yang kita minta yang baik dan yang benar.

Dalam do’a diatas yang kita minta adalah ahli ibadah ( mendirikan sholat ) sebab pokok ibadah adalah sholat,

karena jenis ibadah yang lain kalau dihitung akan banyak sekali, bahkan tidak akan terhitung, dalam hal ini sholat adalah ibadah paling pokok dan menentukan.

Yang ketiga, do’a buat keluarga ada di dalam surat Al-Furqan ayat 74 :
” Dan orang-orang yang berkata : ” Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati ( kami ), dan jadikanlah kami Iman bagi orang-orang yang bertaqwa “.

Berilah kami anak yang Qurrata’ayunin, atau yang selalu menyenangkan hati, nikmatnya bukan main kalau kita punya keluarga atau anak yang Qurrata’ayunin itu.

Bapak meminta dengan Allah supaya mempunyai isteri dan anak yang menyenangkan hati, menyejukan perasaan, menentramkan pikiran, pengertian kata Qurrata’ayunin itu sangat luas.

QANA’AH

Qana’ah artinya rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan.

Qana’ah bukan berarti hidup bermalas-malasan, tidak mau berusaha sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Justru orang yang Qana’ah itu selalu giat bekerja dan berusaha,

namun apabila hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ia akan tetap rela hati menerima hasil tersebut dengan rasa syukur kepada Allah SWT.

Sikap yang demikian itu akan mendatangkan rasa tentram dalam hidup dan menjauhkan diri dari sifat serakah dan tamak.

orang yang memiliki sifat Qana’ah, memiliki pendirian bahwa apa yang diperoleh atau yang ada pada dirinya adalah ketentuan Allah.

Qana’ah seharusnya merupakan sifat dasar setiap muslim, karena sifat tersebut dapat menjadi pengendali agar tidak surut dalam keputusasaan dan tidak terlalu maju dalam keserakahan.

Qana’ah berfungsi sebagai stabilisator dan dinamisator hidup seorang muslim. Dikatakan stabilisator, karena seorang muslim yang mempunyai sifat Qana’ah akan selalu berlapang dada, berhati tentram, merasa kaya dan berkecukupan, bebas dari keserakahan, karena pada hakekatnya kekayaan dan kemiskinan terletak pada hati bukan pada harta yang dimilikinya.

Bila kita perhatikan banyak orang yang lahirnya nampak berkecukupan bahkan mewah, namun hatinya penuh diliputi keserakahan dan kesengsaraan,

sebaliknya banyak orang yang sepintas lalu seperti kekurangan namun hidupnya tenang, penuh kegembiraan, bahkan masih sanggup bersedekah untuk kepentingan sosial. Nabi SAW bersabda dalam salah satu hadisnya :

„ Dari Abu Hurairah r.a. bersabda Nabi SAW : „ Bukanlah kekayaan itu banyak harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati”. ( H.R.Bukhari dan Muslim)

karena hatinya senantiasa merasa berkecukupan, maka orang yang mempunyai sifat Qana’ah, dilindungi dari sifat loba dan tamak,

yang cirinya antara lain suka meminta-minta kepada sesama manusia karena merasa masih kurang puas dengan apa yang diberikan Allah kepadanya.

demikianlah betapa pentingnya sifat Qana’ah dalam hidup, yang apabila dimiliki oleh setiap orang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari akan mendorong terwujudnya masyarakat yang penuh dengan ketentraman, tidak cepat putus asa, dan bebas dari keserakahan,seta selal berfikir positif dan maju.

Betapa tidak, karena sebenarnya dalam Qana’ah terkandung unsur pokok yang dapat membangun pribadi muslim yang menerima dengan rela apa adanya,

memohon tambahan yang pantas kepada Allah serta usahadan ikhtiar, menerima ketentuan Allah dengan sabar, bertawakkal kepada Allah, dan tidak tertarik oleh tipu daya dunia.

TAWAKAL

Tawakkal kepada Allah adalah inti ibadah, tawakkal tidaklah benar dan lurus kecuali tawakkalnya orang yang beriman terhadap takdir dengan iman yang benar.

Tawakkal dalam istilah di dalam syari’at maksudnya adalah menghadapnya hati kepada Allah (ikhlas) ketika beramal, senantiasa memehon pertolongan dari Allah dan hanya berpegang/bersandar kepada Allah semata.

Maka inilah rahasia dan hakikat tawakkal. Orang yang benar-benar melaksanakan tawakkal kepada Allah adalah orang yang juga mengambil sebab-sebab yang diperintahkan Allah, barangsiapa yang tidak mau mengambilnya maka tawakkalnya bukanlah tawakkal yang benar.

Jika seorang hamba bertawakkal terhadap Tuhannya, berserah diri kepadaNya, mempercayakan urusannya kepadaNya maka Allah akan anugrahkan kepadanya kekuatan, keinginan yang kuat, kesabaran dan Allah akan palingkan darinya malapetaka.

SABAR DAN SYUKUR

*Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)

Pengertian Sabar
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:
1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

*Bersyukur artinya seseorang memuji Allah ta’ala yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepadanya.

Baik berupa kenikmatan jasmani seperti harta benda, kesehatan, keamanan, anak, istri dan lain sebagainya. Atau yang berupa kenikmatan rohani seperti iman, islam, petunjuk, ilmu yang bermanfaat, pemahaman yang lurus dan benar dalam beragama, selamat dari segala penyimpangan dan kesesatan, rasa senang, lapang dada, hati yang tenang dan lain sebagainya.

“Dan (ingatlah juga) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat- Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)

Asal dan hakikat syukur ialah mengakui nikmat yang memberinya dengan cara tunduk, patuh dan cinta kepadanya. Orang yang tidak mengenal bahkan tidak mengetahui suatu nikmat ia jelas tidak bisa mensyukurinya.

Demikian juga dengan orang yang mengenal nikmat tetapi tidak mengenal yang memberinya, ia tidak mensyukurinya. Orang yang mengenal nikmat berikut yang memberikannya tetapi ia mengingkarinya berarti ia mengkufurinya.

Orang yang mengenal nikmat berikut yang memberikannya, mau mengakui dan juga tidak mengingkarinya, tetapi ia tidak mau tunduk, mencintai dan meridhai, berarti ia tidak mau mensyukurinya.

Dan orang yang mengenal nikmat berikut yang memberinya lalu ia mau tunduk, mencintai dan meridhai serta menggunakan nikmat untuk melakukan keta’atan kepadanya, maka ia adalah orang yang mensyukurinya.wallahu a’lam.

mudah mudahan tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua..amiin

wasalam

Fathul ahadi

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS