Manfaat Surah Lukman

manfaat surat lukmanDoamustajab2.com– Surat Luqman terdiri dari 34 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Ash Shaffaat.

Dinamai Luqman karena pada ayat 12 disebutkan bahwa Luqman telah diberi oleh Allah nikmat dan ilmu pengetahuan, oleh sebab itu dia bersyukur kepadaNya atas nikmat yang diberikan itu. Dan pada ayat 13 sampai 19 terdapat nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya.

Ini adalah sebagai isyarat daripada Allah supaya setiap ibu bapak melaksanakan pula terhadap anak-anak mereka sebagai yang telah dilakukan oleh Luqman.

Para ulama terdahulu (as-Salaf) bersilang pendapat mengenai status Luqman. Namun mayoritas ulama mengatakan bahwa Luqman bukan Nabi, ia hanya seorang hamba Allah yang salih dan taat beribadah.

Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari al-Asy’ats dari ‘Ikrimah dari ‘Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu, ia berkata, “Luqman adalah seorang hamba sahaya berkebangsaan Habsyi (Ethiopia) dan berprofesi sebagai tukang kayu.” [Ath-Thabari (XX/135)]

Al-Auza’i berkata, “Aku meriwayatkan sebuah keterangan dari ‘Abdurrahman bin Harmalah, ia berkata, “Seorang laki-laki berkulit hitam mendatangi Sa’id bin al-Musayyab. Ia (Sa’id) berkata kepada laki-laki berkulit hitam itu, ‘Janganlah bersedih hanya karena kamu laki-laki berkulit hitam. Karena ada tiga orang manusia terbaik yang berasal dari Sudan (negeri yang penduduk aslinya berkulit hitam), yaitu (1) Bilal, (2) Mahja’, hamba sahaya yang dibebaskan ‘Umar bin al-Khaththab dan (3) Luqman al-Hakim, seorang laki-laki hitam yang fisiknya kuat.” [Ath-Thabari (XX/135)]

Surah Luqman (Arab: لقمان, “Luqman al-Hakim”) adalah surah ke-31 dalam al-Qur’an. Surah ini terdiri dari atas 34 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Surah ini diturunkan setelah surah As-Saffat. Nama Luqman diambil dari kisah tentang Luqman yang diceritakan dalam surah ini tentang bagaimana ia mendidik anaknya.

Pokok-pokok terjemahan

Inilah ayat-ayat Al-Kitab yang mengandung Hikmah, sebagai suatu Bimbingan serta Kasih untuk golongan yang berperilaku baik, serta yang mendirikan shalat, serta yang menunaikan zakat maupun yang meyakini Akhirat; golongan itu merupakan orang-orang yang memperoleh Bimbingan dari Tuhan mereka, bahwa mereka itulah golongan yang beruntung. (Ayat:2-5)

Dan di tengah-tengah umat manusia, terdapat orang yang mempergunakan hadits-hadits tidak berguna tanpa Ilmu untuk menyimpang terhadap Ketentuan Allah, bahkan orang yang menganggap hal demikian sebagai senda gurau, demikianlah orang yang akan ditimpa Malapetaka pedih; apabila disampaikan kepada ia tentang ayat-ayat Kami,

orang itu berpaling secara angkuh seolah-olah ia belum mendengar hal tersebut, seolah-olah ada sumbatan di kedua telinganya; maka gembirakan orang itu tentang Malapetaka pedih, bahwa disediakan untuk orang-orang yang beriman serta memperbuat berbagai kebajikan, Surga-Surga kesejahteraan, mereka disana selamanya. bahwasanya janji Allah merupakan Kebenaran, sungguh Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Ayat:6-9)

Nasehat Yang Di sampaikan

Kita semua tahu bahwa peran ayah dalam sebuah keluarga sangat penting, terutama pemahaman seorang ayah akan tauhid dan akidah di dalam keluarga guna mengarahkan prinsip-prinsip dalam beragama kepada anak-anaknya.

Akan tetapi, sungguh sedih tatkala di jaman sekarang ini, banyak figur-figur dari seorang ayah yang kecenderungannya lebih kepada hal-hal yang bersifat duniawi. Walaupun kita ketahui bersama, bahwasanya mencari dunia itu tidak tercela di dalam Islam,

dan mereka pun melakukan yang demikian itu untuk kesejahteraan anak-anaknya, akan tetapi yang namanya pendidikan anak tentang akhlak dan beragama juga merupakan faktor utama yang tidak dapat dikesampingkan.
Beberapa nasehat yang di sampaikan lukman untuk anaknya :

Allah Subhanahu wa ta’ala menceritakan bahwa suatu saat Luqman memberikan wasiat dan wejangan kepada anaknya, manusia yang paling ia cintai dan paling ia sayangi, serta manusia yang paling berhak mendapatkan ilmu pengetahuan dan nasehat darinya. Oleh sebab itu nasehat pertama yang ia sampaikan adalah

(1) Hendaknya ia menyembah hanya kepada Allah saja, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ” Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman:13)

Perhatikanlah bagaimana penekanan Luqman kepada anaknya tatkala ia berkata, “Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.

” Imam al-Bukhari dalam Fat-hul Baari (VIII/372) meriwayatkan sebuah hadits yang bersumber dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, ia berkata, “Ketika turun ayat, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezhaliman.” (QS. Al-An’aam: 82),

para Sahabat Rasulullah merasa berat mengamalkan ayat ini. Mereka bertanya, ‘Apakah ada di antara kita yang keimanannya tidak tercampur dengan perbuatan zhalim?’

Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan itu yang dimaksud. Tidakkah kamu mendengar perkataan Luqman, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar.’” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya nomer 124.

(2) Berbakti kepada orang tua.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS.Luqman: 14)

Sengaja, Allah menyebutkan perjuangan seorang ibu dalam mengurus anaknya. Penderitaan dan pengorbanan seorang ibu dalam melindungi anaknya di antaranya dengan tidak bisa tidur dengan nyaman di sepanjang siang dan malam, semata-mata agar seorang anak senantiasa mengingat jasa-jasa ibunya. [Shahih Tafsir Ibnu Katsir (7/153)]

Mengenai ayat ini, Mujahid berkata, “Yang dimaksud dengan -wahnan ‘alaa wahnin- adalah, ‘Dalam keadaan penuh penderitaan saat mengandung sang anak.’” [Ath-Thabari (XX/137)]

Dan akhir ayat tersebut merupakan isyarat yang sangat agung. “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” Karena sesungguhnya Allah akan membalas hamba-hamba-Nya yang senantiasa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, dengan balasan yang paling sempurna. [Shahih Tafsir Ibnu Katsir (7/153)]

(3) Kezhaliman atau kesalahan yang ukurannya seberat biji sawi akan medapat ganjaran di hari Kiamat kelak.

(Luqman berkata): ”Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Luqman: 16)

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiyaa’: 47)

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8)
Allah akan meletakkan keputusan yang adil pada saat menimbang amal perbuatan manusia. Allah akan membalas segala amal perbuatan manusia, jika amalnya baik, maka balasannya pun akan baik. Akan tetapi jika amal perbuatannya jelek maka balasannya pun jelek.

(4) Agar anaknya tidak mengikuti ajaran orang tua yang sesat. Yaitu ajakan untuk mengikuti agama mereka yang tidak diridhlai oleh Allah Azza wa Jalla.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” (QS. Luqman:15).

Namun bukan berarti yang demikian itu jika terjadi kepada kita menjadikan penghalang bagi diri kita untuk bergaul dan memperlakukan kedua orang tua kita dengan baik di dalam dunia ini. Karena Allah menutup ayat tersebut dengan, “Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman:15).

(5) Perintah mendirikan shalat, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran.

“Hai anakku, dirikanlah shalat.” Yakni, lakukanlah dengan seluruh aturan-aturan, rukun-rukun, dan waktu-waktunya.“Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.” (QS.Luqman:17)

(6) Menyuruh agar tidak bersikap sombong.

Firman Allah dalam QS. Luqman ayat 18, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (kerena sombong).”
Maksudnya janganlah kita suka memalingkan wajah kita tatkala kita sedang berbicara atau ketika seseorang berbicara kepada kita dengan maksud mengecilkan dan meremehkan orang lain seraya menampakkan kesombongan dan kepongahan diri kita di depan orang lain.

Oleh karenanya, kita harus mampu merendahkan hati dan menampakkan wajah yang ramah terhadap orang lain, khususnya saudara-saudara kita seagama dan seakidah.

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.” (QS. Luqman: 18). Sombong, berbangga diri, menampakkan kebesaran dan kekuatan adalah hal yang harus kita hindari. Karena yang demikian itulah hal yang akan membuat Allah membenci kita.

Dalam ayat lain, Allah menegaskan ketidak-sukaan-Nya kepada orang-orang yang sombong dan merendahkan orang lain,
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Israa’: 37)

(7) Perintah untuk bersikap sederhana.

Allah berfirman, “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan.” (QS. Luqman: 19), Maksudnya berjalanlah dengan sikap yang santun dan sederhana.“Dan lunakkanlah suaramu.” (QS. Luqman: 19) Artinya, janganlah bersikap keterlaluan dalam berbicara. Janganlah mengeraskan suara pada pembicaraan yang tidak memiliki faedah apa-apa.

Nasehat-nasehat Luqman tersebut sungguh penuh hikmah dan bermanfaat. Untaian nasehat Luqmanul Hakim tersebut termasuk kisah yang ada di dalam al-Qur’an al-’Azhim. Oleh karena itu, wajiblah seorang ayah senantiasa mengajarkan prinsip-prinsip hidup seperti yang telah Luqman ajarkan kepada anak-anaknya.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua..aamiin
Wasalam

Fathul ahadi

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS