Mengapa Saya Tidak Bahagia..??

Doamustajab2.com-Sebuah pertanyaan yang seringkali kita tanyakan baik pada orang lain maupun pada diri sendiri,

hal hal ini bukan pertanyaan baru namun jawaban memerlukan pemikiran mendalam dan memerlukan kejujuran serta keterbukaan hati untuk menyikapinya,tanpa itu maka hanya “pembenaran “bukan kebenaran yang kita dapatkan.

Saya orang kaya ,kenapa saya tidak bahagia padahal semua yang saya inginkan bisa saya beli..??

Tak dapat disangkal pula bahwa hidup memang memerlukan kebendaan sebagai pelengkap dan pelangsung hidup, dan amat baiklah kalau orang dapat menggunakan keduniawian itu pada tempat sebenarnya.

Akan tetapi, akan celakalah dan hanya akan menimbulkan mala-petaka bagi diri sendiri dan bagi orang lain kalau manusia sudah dikuasai oleh duniawi yang merupakan harta benda, kedudukan, nama besar, kepandaian dan lain-lain sebagainya.

Sayang sekali ,yang namanya “bahagia” tidak di perjual belikan….

Saya orang yang pintar,terpelajar ,berpendidikan tinggi kenapa saya tidak bahagia dengan kepintaran saya..??

Kesombongan merupakan penyakit yang selalu menyeret kita ke alam pikiran sesat. Nafsu daya rendah yang mencengkeram hati dan akal pikiran kita mendorong kita untuk merasa bahwa kita ini yang paling pandai, paling benar, paling baik dan paling segala! Kalau kita pandai, kita membanggakan pikiran kita.

Demikian juga dengan kekuatan tubuh, kalau kita kuat, kita membanggakan tubuh kita. Kita selalu lupa bahwa kita ini hanya alat! Seluruh tubuh dan hati akal pikiran ini hanya untuk hidup sebagai manusia, alat yang semula dimaksudkan untuk mengabdi kepada jiwa yang menjadi penghuni diri kita.

Akan tetapi sayang, alat-alat itu kemudian digelimangi nafsu daya rendah sehingga kita dibawa menyeleweng. Alat-alat yang seharusnya dipergunakan oleh jiwa, diambil alih oleh nafsu, diperalat oleh nafsu sehingga apapun yang dilakukan tubuh dan hati akal pikiran, selalu ditujukan untuk memuaskan nafsu daya rendah.

Banyak lagi “pembenaran pembenaran”yang kita ajukan sehingga sepertinya kitalah yang paling berhak untuk menyandang status “orang yang paling bahagia “

Lalu bagaimana cara untuk mendapatkannya..??

Sebelum kita berusaha mendapatkannya alangkah baiknya kita bersama meneliti dan memahami apa dan bagaimana bentuk dari bahagia itu sendiri agar kita mengenalinya

Apa itu bahagia..??

Sebuah kata sederhana namun mengandung arti yaang sangat dalam,karena merupakan sebuah rasa yang lebih tinggi di banding kesenangan,kegembiraan,kesukaan.padahal kita sadar kalau ada suka maka akan di ikuti oleh duka,gembira selalu di bayangi sedih,senangpun selalu di intai oleh kecewa..

Kebahagiaan sama halnya dengan kesehatan,”kesehatan merupakan sebuah mahkota yang hanya bisa di lihat oleh orang yang sakit pada diri orang yang sehat “,

Jadi sebenarnya kalau dia sedang sehat maka tidak memerlukan yang namanya cara menjadi sehat,begitu juga dengan bahagia.

Jadi bisa kita simpulkan bersama bahwa yang lebih penting adalah mencari sebab sebab kita tidak bahagia di bandingkan mencari apa itu bahagia,kalau kita bisa menghilangkan sebab sebab kita bahagia maka otomatis kita tidak memerlukan bahagia tersebut karena kita sudah bahagia..

Pokok pokok kebutuhan manusia

Untuk mencari penyebab tidak bahagianya kita maka perlu di ingat ini adalah urusan batin namun sangat berkaitan erat dengan segala kebutuhan diri kita sendiri,secara umum meliputi kebutuhan jasmani dan kebutuhan batin atau rohani :
1.kebutuhan pangan ,dalam hal ini harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari hari.

2.Kebutuhan sandang,berupa pakaian yang pantas
3.Kebutuhan tempat tinggal yang layak
4.Kebutuhan yang berkaitan dengan batin atau perasaan baik itu keamanan,kehormatan,harga diri ,kesehatan dan lain lain.

Mari kita bahas bersama satu persatu,

1.kebutuhan pangan ,dalam hal ini harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari hari.

Sebagai orang muslim maka kita sudah punya panduan yang jelas tentang bagaimana makanan yang terbaik ,baik dari ayat maupun dari hadis,antara lain :

* “Dari Abu ABdillah Nu’man bin Basyir r.a,”Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka, barang siapa yang takut terhadap syubhat, berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa dia adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim).

* QS Al Baqarah: 168

Artinya: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”
*QS Al Baqarah: 172

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.

Pada dasarnya untuk kebutuhan pangan ini semua di bolehkan kecuali yang di larang seperti,

* QS Al Baqarah: 173
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam ayat 173 Allah menjelaskan jenis-jenis makanan yang diharamkan, yaitu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Laranagan memakan empat jenis itu juga disebutkan dalam surah lainnya. Lihat misalnya, dalam surah Al-An’am: 145 juga al Maidah: 3.

Ada banyak manfaat yang berkaitan langsung dengan makanan dan minuman yang di halalkan ini,di antaranya :

-Membawa ketenangan hidup dalam kegiatan sehari-hari,
-Dapat menjaga kesehatan jasmani dan rohani,
-Mendapat perlindungan dari Allah SWT,
-Mendapatkan iman dan ketaqwaan kepada Allah SWT,
-Tercermin kepribadian yang jujur dalam hidupnya dan sikap apa adanya,
-Rezeki yang diperolehnya membawa barokah dunia akhirat.

2.Kebutuhan sandang,berupa pakaian yang pantas

Agama Islam memperkenankan kepada setiap Muslim, bahkan menyuruh supaya geraknya baik, elok dipandang dan hidupnya teratur dengan rapi untuk menikmati perhiasan dan pakaian

Tujuan dari berpakaian dalam islam adalah untuk menutup aurat dan Untuk urusan pakaian inipun sebagai muslim kita mendapat panduan yang jelas untuk menentukan mana yang boleh mana yang tidak ,mana yang pantas mana yang tidak,antara lain:

“Hai anak-cucu Adam, sungguh Kami telah menurunkan untuk kamu pakaian yang dapat menutupi aurat-auratmu dan untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf: 26).

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur : 31)

3.Kebutuhan tempat tinggal .

Konsep “Baiti Jannati, rumahku adalah surgaku” dalam islam bukan mengarah kepada kemegahan dan kemewahan, ada yang menganggap melimpahnya harta dan kekayaan dapat mengantarkan kepada puncak kebahagiaan.

Maka, seluruh anggota keluarga itu pun terinspirasi untuk merengkuh berbagai pernak-pernik dunia seperti mobil mewah, rumah bak istana dan tampilan ala selebritis.

Sebagian lagi, memandang jabatan dan kedudukan sebagai tolok ukur kebahagiaan. Hidupnya terkuras hanya untuk meraih jabatan. Bahkan, tidak sedikit yang menghalalkan segala cara demi meraih kedudukan dan jabatan itu.
Konsep tersebut lebih mengarah kepada “surga”secara batin.

Sifat sifat buruk yang menghalangi kebahagiaan

Kita sadar sepenuhnya dalam pemenuhan kebutuhan kebutuhan tersebut akan ada campur tangan dari sifat sifat buruk dari nafsu manusia itu sendiri,antara lain:

1.sombong

Sikap sombong adalah memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada di atas orang lain. (Bahjatun Nadzirin, I/664, Syaikh Salim al Hilali, cet. Daar Ibnu Jauzi)

Kesombongan biasanya datang ketika kita merasa lebih di banding orang lain,lebih kaya,lebih pintar,lebih alim,lebih tampan,lebih cantik dan lebih lebih yang lainnya.

Kesombongan bisa di bagi 2 macam yaitu:

1.Sombong Terhadap al Haq (Kebenaran)
Sombong terhadap al haq adalah sombong terhadap kebenaran, yakni dengan tidak menerimanya. Setiap orang yang menolak kebenaran maka dia telah sombong disebabkan penolakannya tersebut. Oleh karena itu wajib bagi setiap hamba untuk menerima kebenaran yang ada dalam Kitabullah dan ajaran para rasul ‘alaihimus salaam.

2. Sombong Terhadap Makhluk
Bentuk kesombongan yang kedua adalah sombong terhadap makhluk, yakni dengan meremehkan dan merendahkannya. Hal ini muncul karena seseorang bangga dengan dirinya sendiri dan menganggap dirinya lebih mulia dari orang lain.
Kebanggaaan terhadap diri sendiri membawanya sombong terhadap orang lain, meremehkan dan menghina mereka, serta merendahkan mereka baik dengan perbuatan maupun perkataan.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)

2.sifat tamak :

adalah sebuah sifat yang pernah mengenal rasa puas , Serakah dalam bahasa arab disebut tamak, yaitu sikap yang selalu ingin memperoleh sesuatu yang banyak untuk diri sendiri. Orang tamak selalu mengharap pemberian orang lain, namun dia sendiri bersikap pelit atau bakhil. Ia ingin mengumpulkan harta untuk kepentingan diri sendiri tanpa memperhatikan aturan.

Ketamakan terhadap harta hanyalah akan menghasilkan sifat buas, laksana serigala yang terus mengejar dan memangsa buruannya walaupun harta itu bukan haknya. Fitrah manusia memang sangat mencintai harta kekayaan dan berhasrat keras mendapatkannya sebanyak mungkin dengan segala cara dan usaha

Orang yang tamak akan menghimpun kekayaan dunia dan sukar untuk membuat amal kebajikan.

Rasulullah Saw bersabda, “Kalaulah Allah kurniakan anak adam dua lembah daripada emas, nescaya dia hendak tiga lembah. Sesekali harta itu akan dapat memuaskan hawa nafsunya melainkan setelah dimasukkan ke dalam tanah(mati)”

Dalam Al-Qur’an, banyak terdapat keterangan masalah rakus atau tamak, antara lain pada surah Al-Baqarah ayat 96 yang
Artinya : “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah : 96).

3.Sifat Dengki

Dengki (hasad), kata Imam Al-Ghazali, adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu. Dengki dapat merayapi hati orang yang sakit, karena orang dengki itu merasa lebih hebat, tidak ingin kalah, ingin dianggap ataupun membesar-besarkan diri.

Perilaku dan sikap pendengki mirip perilaku orang-orang munafik. Di antara perilaku orang munafik adalah selalu mencerca dan mencaci apa yang dilakukan orang lain terutama yang didengkinya. Jangankan yang tampak buruk, yang nyata-nyata baik pun akan dikecam dan dianggap buruk.

Orang yang dengki perilakunya sering tidak terkendali. cenderung terjebak dalam tindakan merusak nama baik, mendiskreditkan, dan menghinakan orang yang didengkinya. Dengan cara itu ia membayangkan akan merusak citra, kredibilitas, dan daya tarik orang yang didengkinya. Dan sebaliknya, mengangkat citra, nama baik dan kredibilitas pihaknya.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Ada tiga hal yang menjadi akar semua dosa. Jagalah dirimu dan waspadalah terhadap ketiganya. Waspadalah terhadap kesombongan, sebab kesombongan telah menjadikan iblis menplak bersujud kepada Adam. Waspadalah terhadap kerakusan, sebab kerakusan telah menyebabkan Adam memakan buah dari pohon terlarang. Dan jagalah dirimu dari dengki, sebab dengki telah menyebabkan salah seorang anak Adam membunuh saudaranya.” (HR Ibnu Asakir).

Allah subhanuhu wata’ala berfirman: Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki. (AI Falaq : 1, 2 dan 5).

Sifat sifat baik yang membantu menuju kebahagiaan

Untuk menghilangkan sifat sifat buruk ini maka perlu kita memupuk sifat sifat yang baik yang akan membawa kita menuju kebahagiaan,antara lain,

1. tawadhu’ (rendah hati)

Tawadhu’ adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun datangnya baik ketika suka atau dalam keadaan marah. Artinya, janganlah kamu memandang dirimu berada di atas semua orang. Atau engkau menganggap semua orang membutuhkan dirimu.

Sikap merendah tanpa menghinakan diri- merupakan sifat yang sangat terpuji di hadapan Allah dan seluruh makhluk-Nya. Sudahka h kita memilikinya?

Merendahkan diri (tawadhu’) adalah sifat yang sangat terpuji di hadapan Allah dan juga di hadapan seluruh makhluk-Nya. Setiap orang mencintai sifat ini sebagaimana Allah dan Rasul-Nya mencintainya. Sifat terpuji ini mencakup dan mengandung banyak sifat terpuji lainnya.

Amru khalid mendefinisikan tawadhu dengan ketundukan pada kebenaran yang datang dari mana pun yang kemudian bersikap saling adanya interaksi dengan lebih sayang dan kelembutan tanpa membedakan dengan lainya,

karena menurutnya tawadhu memiliki dua makna, pertama: menerima suatu kebenaran yang datang dari simpanan, kedua: merendahkan hati dihadapan orang lain dan berinteraksi dengan mereka dengan kasih sayang dan kelembutan, tanpa membedakan satu dengan lainya.

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendahkan diri sehingga salah seorang dari kalian tidak saling membanggakan atau yang lain dan salah seorang dari kalian tidak mendzalimi yang lain (H.R muslim).

Banyak nash-nash baik Al-Qur’an yang menyuruh pada sikap tawadhu diantara firman Allah dalam surat Asyura Ayat 215:
Yang artinya : “Dan Rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman (QS Asy Ssuara: 215)

2.Pemurah/Dermawan

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia lainnya”.
(riwayat Bukhari dan Muslim)

Membantu sesama dengan tulus ikhlas mengharapkan ridho Allah swt adalah perbuatan mulia. Perbuatan ini adalah pancaran dari hati yang bertakwa kepada Allah. Tidak peduli apakah ada orang lain yang tahu atau tidak, tetaplah jiwa pemurah melahirkan sikap-sikap dan perbuatan menolong orang yang membutuhkan pertolongan.

sifat pemurah adalah salah satu akhlaq terpuji yang selayaknya kita miliki sebagai muslim sejati. Sifat pemurah dalam arti suka memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan uluran tangan kita.

Para sahabat bertanya,’Wahai Nabi Allah, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki harta? Beliau menjawab : Bekerjalah dengan tangannya sehingga ia bermanfaat bagi dirinya lalu bersedekah. Mereka bertanya lagi, ‘Bagaimana kalau dia tidak punya? Beliau menjawab: Membantu orang yang membutuhkan dan yang minta pertolongan. Mereka bertanya lagi ,’ Kalau tidak bisa? Beliau menjawab: Hendaklah dia melalukan kebajikan dan menahan diri dari kejahatan, karena keduanya merupakan sebaik-baik sedekah baginya.” ( HR. Bukhari ).

Begitu pentingnya bagi kita untuk memupuk sifat pemurah atau dermawan ini sehingga kita perlu mengetahui sedikit tentang sifat sifat orang yang pemurah atau dermawan secara umum:

1) Memberi tanpa mengharapkan imbalan
Seseorang yang benar-benar dermawan tidak akan pernah mengharapkan sedikitpun imbalan setelah dia membantu orang lain.

2) Tidak mengharapkan pujian (Riya’)
Seseorang yang dermawan ketika menyumbang, mereka tidak perlu di sebut-sebut jumlah sumbangannya, agar dipuji oleh orang lain karena kebaikan yang telah ia lakukan kepada orang lain yang membutuhkan bantuan.

3) memiliki perhatian besar terhadap orang yang menderita
seseorang yang dermawan selalu. memberikan perhatian terhadap orang yang membutuhkan bantuan tanpa harus ada yang menyuruh, karena hatinya secara otomatis akan tergerak untuk membantu.

3.Ikhlas ( wajar,tanpa pamrih )

Dalam mendefinisikan ikhlas, para ulama berbeda redaksi dalam menggambarkanya. Ada yang berpendapat, ikhlas adalah memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah mengesakan Allah dalam beribadah kepadaNya.

Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah pembersihan dari pamrih kepada makhluk.
Landasan niat yang ikhlas adalah memurnikan niat karena Allah semata. Setiap bagian dari perkara duniawi yang sudah mencemari amal kebaikan, sedikit atau banyak, dan apabila hati kita bergantung kepadanya, maka kemurniaan amal itu ternoda dan hilang keikhlasannya.

Karena itu, orang yang jiwanya terkalahkan oleh perkara duniawi, mencari kedudukan dan popularitas, maka tindakan dan perilakunya mengacu pada sifat tersebut, sehingga ibadah yang ia lakukan tidak akan murni, seperti shalat, puasa, menuntut ilmu, berdakwah dan lainnya.

Masalah ikhlas merupakan masalah yang sulit, sehingga sedikit sekali perbuatan yang dikatakan murni ikhlas karena Allah. Dan sedikit sekali orang yang memperhatikannya, kecuali orang yang mendapatkan taufiq (pertolongan dan kemudahan) dari Allah.

Namu karena sifat ini sangat penting dalam kehidupan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat maka sepatutnyalah bagi kita untuk memupuk dan menyuburkan dalam perbuatan dan pergaulan,terutama untuk membendung sifat sifat buruk yang akan menghancurkan kebahagiaan kita.

Demikian sekedar ungkapan dan harapan dari saya dan anda,semoga kita mencapai kebahagian dunia dan akhirat,,amiin yaa rabbal alamiin.

Wasalam

Fathul ahadi