Sekilas Tentang Ilmu Kebal

sekilas tentang ilmu kebalDoamustajab2.com kali ini mencoba menuliskan sedikit tentang ilmu ilmu kebal,terutama yang ada di daerah kalimantan selatan sebagai penambah wawasan kita semua.

Terlepas dari boleh atau tidaknya hal ini ,karena Ilmu kebal hanya merupakan salah satu komponen kecil dari sebuah mesin besar bernama keselamatan.

Mendengar “Ilmu Kebal”, bisa jadi pikiran Anda langsung mengarah pada hal yang menyeramkan. Bahkan sebagian orang mengidentikkannya dengan ilmu pegangan para penjahat yang bergelut di dunia hitam.

Anggapan demikian, tentu tidak selamanya benar, mengingat ilmu kebal hakekatnya adalah untuk mencari keselamatan. Ilmu kebal pantas dimiliki siapa saja. Selama untuk tujuan kebaikan, saya yakin tidak akan membayakan siapapun.

Berdasarkan fungsi, Ilmu kebal terbagi menjadi dua jenis yaitu: defensif (bertahan) dan atraktif (dapat dinampakkan setiap saat sesuai niat pemilik ilmu).

Ilmu kebal yang banyak dikenal oleh halayak adalah jenis ilmu kebal defensif, yaitu ilmu yang hanya nampak manfaatnya ketika seseorang dalam keadaan bahaya.

Sedangkan ilmu kebal atraktif jarang ditemukan karena hanya sedikit Guru yang menguasainya, dan kalaupun ada Guru yang menguasai, biasanya ia tidak mudah mewariskan kepada murid karena bisa membuat murid menjadi sombong.

Ilmu kebal sendiri terbagi lagi menjadi 2 macam

yang pertama kebal dari dalam,kekebalan seperti ini bisa di dapat kan dari jalur ilmu,ajian,wirit atau sejenisnya dengan cara menjalani ritual sesuai keilmuan yang di yakini nya .

Yang kedua ilmu kebal dari luar,kekebalan separti ini bisa di dapat kan,dari sebuah benda atau barang,seperti cincin,azimat,rajah,pelat bahu,merah delima,kol buntet,rantai babi dll.

secara fungsional kekebalan dari suatu barang terkesan lebih ampuh dari pada kekebalan yang di dapat kan dari jalur ilmu,karena senjata yang di hantamkan kearahnya menjadi tertahan dan tidak sampai.

Secara teori keberhasilan seseorang menguasai ilmu kebal ada 3 hal:

1,metode harus benar,dalam hal ini kualitas sebuah ilmu dan kebenaran nya sangat di perlukan,jadi bukan ilmu asal asalan.sehingga bisa menimbulkan power yang khususnya akan melindungi pemilik nya mana kala di perlukan.dan metode yang telah di ijazah kan sang guru tidak boleh di kurangi dalam segi pengamalan/riyadah.

2,suasana mendukung,

3,dan yang paling penting adalah taqdir mengizin kan atau dengan kata lain,tepat nya ada izin dari Allah,,,sang penguasa alam semesta ini.

Ilmu kekebalan dalam budaya banjar.

Suku Banjar dalam tulisan ini adalah masyarakat lama yang mendiami wilayah Propinsi Kalimantan Selatan.
Beberapa tulisan menunjuk adanya kesamaan dengan penduduk Melayu Sumatera yang sudah tercampur dengan masyarakat asli daerah.

Para penulis menyebutnya dengan suku Dayak. Hingga sekarang suku tersebut masih ada dan terkonsentrasi pada masyarakat daerah wilayah Provinsi Kalimantan Tengah (Dayak KalTeng) dan wilayah Provinsi Kalimantan Timur (Dayak KalTim). Kadang disebut pula dengan sebutan Dayak Banjar.

Untuk sebutan terakhir ini, banyak referensi merujuk pada hasil penelitian Alfani Daud. Dalam laporan penelitiannya beliau mengatakan bahwa setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasanya dinamakan secara umum sebagai suku Dayak,

dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan, terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu dan Banjar Kuala.

Seorang etnis Banjar jaman dulu yang bermaksud pergi keluar daerahnya, istilahnya “madam”, yakni pergi mencari penghidupan di kampung orang, atau merantau pergi ke daerah yang jauh (luar pulau),

biasanya akan mencari ilmu terutama ilmu kebal terhadap bacokan senjata tajam. Ini dimaksudkan untuk sebagai perisai atau menjaga diri dari orang lain yang bermaksud mencelakakan selama di perantauan.

Saat  masih remajasaya  sering mendengar ungkapan para orangtua kami (etnis Banjar) terkait anak maupun kerabat yang bermaksud merantau keluar daerah atau daerah lain.

Ungkapan tersebut adalah, “banyaki sangu kalu handak marantau”, yang artinya; banyaki bekal jika ingin pergi merantau. “Sangu” atau bekal dalam ungkapan pengertian etnis Banjar, tak sekedar bekal barang maupun keahlian atau ilmu.

Sangu, dalam istilah etnis Banjar pada jaman dulu bahkan hingga sekarang adalah yang terkait dengan ilmu kedigdayaan, ilmu kebal baik terhadap senjata tajam maupun ilmu hitam yang dapat mencelakakan.

Beberapa macam jenis ilmu kebal atau taguh dalam masyarakat banjar

Dalam kepercayaan masyarakat Banjar orang yang memiliki ilmu kekebalan itu bisa dibagi menjadi dua kelompok.

Pertama, kelompok yang kebal tubuhnya sejak pertama kali dilahirkan, sebab ketika dia lahir dalam keadaan terbungkus oleh kulit atau yang sering disebut orang Banjar “lahir bakulubut”. Disebut dengan taguh bungkus atau taguh basalumur.

Kedua, kelompok yang memiliki ilmu kebal setelah melalui proses tertentu.Untuk mendapatkan kekebalan tubuh, memang banyak cara yang biasa dilakukan oleh orang Banjar.

Ada beberapa cara untuk mendapatkan kekebalan :

1.Dengan mandi kebal/Mandi taguh

Umumnya, ritual mandi taguh dilakukan oleh mereka yang ingin bepergian jauh (madam) baik dalam rangka untuk menuntut ilmu maupun berusaha (berdagang, mendulang), mereka yang akan melaksanakan tugas berat (misalnya tentara atau polisi yang ditugaskan di daerah-daerah konflik) atau mereka yang merasa terancam jiwanya.

Dalam pemahaman masyarakat Banjar, air menjadi sebuah media penting untuk mendapatkan penyembuhan atau suatu kekuatan, termasuk kekebalan tubuh.

Orang Banjar meyakini, karena manusia berasal dari air, maka air pulalah yang menyebabkan dia menjadi seorang yang memiliki kekuatan tertentu. Air tidak bisa dipatahkan, air tidak bisa ditebas dengan pedang, ditombak, dan seterusnya, air akan tetap kembali ke bentuknya semula`

Untuk mandi kekebalan dan mandi penghalat biasanya disertakan medianya ketika mandi berupa alat-alat tertentu yang menjadi lawannya.

Untuk kekebalan seperti menginjak atau menduduki pisau. Adapun mandi penghalat hanya menggunakan sarung biasa dan tempat duduk kain kuning. Sebagian tidak menggunakan kain kuning. Sedangkan mandi kecintaan tidak disyaratkan dengan cara demikian.

Acara mandi juga biasanya disertakan dengan upacara selamatan kecil-kecilan dengan hidangan wajibnya yang umum adalah berupa telur beberapa butir, nasi ketan (lamang), kopi, di samping menyediakan kain warna tertentu seperti warna kuning, putih, atau hitam berupa kain yang tidak pernah dipakai (baru).

2.Dengan memakai jimat/ Babasal`

Ada yang mendapatkan kekebalan tubuh dimaksud karena memakai jimat-jimat tertentu yang berwujud wafak-wafak.
Rumusan-rumusan wafak ditulis di atas kertas, di atas baju dalam pria (baju barajah/ baju bawafak) atau dituliskan (dirajahkan) pada punggung, ditulis di cincin atau benda lainnya. Wafak yang ditulis di atas kertas dan dibungkus dengan kain kuning atau kain hitam disebut jimat.

Jimat ini biasanya ditaruh di peci, dikalungkan atau ditaruh di kantong baju. Ada juga yang dijadikan ikat pinggang yang disebut babatsal. Ada juga wafak yang ditulis di atas kertas lalu diuntal (ditelan).

Ada juga yang mendapat kekebalan tubuh karena memakai benda-benda tertentu yang dianggap mengandung aura gaib dan kesaktian (mana), misalnya picis mimang, rantai babi, cemeti, besi kuning atau wasi tuha, mustika ular, dan lain-lain.

Rantai babi adalah benda yang terdapat di leher salah seekor babi liar (rajanya). Besi kuning adalah besi yang ditemukan dalam sarang tabuan pipit yang sudah sangat tua.

Tabuan pipit adalah sejenis lebah penyengat yang sangat berbisa, dan besi kuning konon adalah batu tempat mengasah sengatnya.

Wasi tuha (besi tua) adalah sebutan untuk senjata kuno yang diwarisi turun-temurun, seperti keris, parang bungkul, mandau, tombak, badik, taji, dan lain-lain.

3.Dengan menelan atau mauntal minyak kebal.

Dalam praktek masyarakat suku Banjar minyak magis hingga sekarang daerah seperti Rantau, Kandangan, Laksado, Barabai hingga Amuntai adalah daerah sentra minyak magis untuk berbagai keperluan.

Benda minyak magis yang ditemukan dalam masyarakat Banjar selain untuk kecintaan adalah minyak yang diuntal (ditelan lewat mulut).

Biasanya bercampur dengan kapas berbalut, rasanya amis, bau menyengat. Minyak tersebut dianggap siapa yang menelannya akan menjadi berlinuh (sakti), kebal senjata, tahan di pukul atau lainnya.

Maka dengan cara menelan benda-benda tertentu (minyak magis) yang bermacam bentuknya seperti kapas yang berminyak, yang sudah dimantrai atau ada acara khusus padanya.

beberapa nama dari minyak itu dari Kalimantan Selatan, antara lain sebagai berikut:

a.Minyak (untalan) Gajah adalah untuk kekebalan terhadap senjata keras dan besar (berat) dan menggetarkan musuh.
b.Minyak (untalan) Cancang Saluang, adalah kekebalan yang tahan dari bacokan senjata meski berulang-ulang dan bersama-sama.
c.Minyak (untalan) Rangka Hirang untuk kebal senjata apapun.
d.Minyak (untalan) Tala adalah minyak untuk kekebalan dan keberanian serta membuat takut lawan.
e.Minyak (untalan) Tempekong adalah untuk kegesitan dan kekebalan.
f. Minyak (untalan) Gangsa adalah untuk kekebalan dan keberanian, kepahlawanan.
g.Minyak (untalan) Semar agar kuat dan kebal senjata tajam.
h Minyak (untalan) Gransang adalah khusus untuk keberanian.
i. Minyak (untalan) Timah (warnanya seperti perak) agar kebal dari peluru
j.Minyak (untalan) Rasa adalah untuk kekebalan
k.Minyak (untalan) Penyambung Nyawa agar tubuh yang luka akibat bacokan tersambung kembali, akibat kecelakaan, operasi akan menyembuhkan sendiri dengan cepat.
l.Minyak (untalan) Bintang adalah penyangga kematian. Seseorang yang telah ditusuk, di bacok senjata hingga dianggap mati atau tak mungkin hidup akan hidup kembali pada malam hari bila telah ada bintang di langit.
m.Minyak (untalan) Pandawa agar pukulan keras dan kebal senjata tajam.
n.Minyak (untalan) Wayang, agar cepat mempengaruhi orang dan jika berkelahi akan menggentarkan musuh.
o.Minyak (untalan) tembakau yang telah dimantrai untuk kekebalan.

4.Menelan /mauntal benda magis

Ada Beberapa jenis yang yang sering di gunakan :

a.Kulit kijang putih

Kulit kijang putih adalah berasal dari kijang (rusa) berwarna putih. Ia kebal senjata sehingga binatang ini tak dapat ditembus peluru maupun oleh bacokan pedang. Cara mematikannya hanya dengan cara membuat jebakan di dasar tanah hingga ia mati sendiri karena tak beroleh makanan.

Dari kulitnya diambil dengan cara tertentu hanya mampu di potong. Kemudian kulitnya itulah dibagi dalam beberapa potongan kecil (seukuran 1 cm persegi) dijadikan zimat untuk kekebalan dari peluru dan senjata tajam.

Benda ini sekarang juga langka karena tak ada lagi barang yang bersifat baru. Hanya peninggalan orang dulu, pahuluan. Harganya sangat mahal hingga puluhan juta rupiah dan jadi koleksi orang tertentu.

Biasanya uji cobanya diletakkan pada ayam kemudian ayam itu ditembak dengan senapan atau pistol asli. Bila ayam itu tidak mati atau tidak mau terkena tubuhnya oleh peluru meskipun ditembak dengan cara yang sangat dekat maka benda itu dianggap asli oleh orang yang mencarinya.

b.kepompong kupu-kupu gajah`

yang telah dimantrai dan cara mengambil benda tersebut sesuai prosedurnya seperti harus mendekati benda kepompong tersebut dengan cara membelakangi sedikit demi sedikit. Benda ini akan di telah (diuntal). Maka yang bersangkutan akan kebal.

c. Daun Taguh Sahari

Daun taguh sehari hanya tumbuh di daerah pegunungan meratus kalimantan selatan dan sudah turun temurun di yakini dan digunakan untuk perlindungan diri yang praktis [kekebalan] yang bertahan khasiatnya selama satu hari dari benda tumpul maupun senjata tajam .

Cara menggunakan daun taguh sehari cukup mudah :

1.Cukup sediakan air di dalam gelas dengan takaran tinggi air minum 2 ruas jari telunjuk dan rendam daun taguh sehari di dalam air tersebut kurang lebih 10 – 15 menit dan minum airnya, ambil kembali daun taguh sehari dari gelas tersebut, khasiat nya akan bertahan 1 x 24 jam selama si pemakai tidak buang air kecil / kencing .

2.Robek sedikit daun taguh sehari kunyah dan teguk saripatinya, khasiatnya akan bertahan 1 x 24 jam selama si pemakai tidak buang air besar.

5. Dengan Mengamalkan suatu ilmu tertentu

Bisa juga dengan mengamalkan suatu amaliah tertentu mereka akan memiliki kekebalan karena mengamalkan bacaan tertentu (melalui wiridan), antara lain yang berwujud ayat Alquran, Hizb (pertahanan), syair atau pantun, dan bacaan-bacaan lain .seperti amaliah kaf 40 atau amalan penutup pintu sembilan atau doa garis lesmana.

Dari seluruh tulisan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa ilmu itu bentuknya banyak dan sifatnya tidak terbatas. Untuk kekebalan sendiri juga mempunyai kelemahan masing-masing karena itu menandakan tidak ada yang sempurna dihidup ini.

Ilmu taguh pada masa yang lampau digunakan bukan untuk pamer namun digunakan untuk perang melawan bangsa penjajah (imprealisme) walau pada kenyatannya sekarang bisa disalah fungsikan.

Mengutip falsafah orang tua, “ di atas langit ada langit ” yang secara sederhana dapat kita maknai bahwa manusia tidak boleh sombong dengan kemampuan yang dia miliki karena tidak ada yang sempurna dan kesempurnaan hanya milik sang pencipta kesempurnaan itu sendiri.

Untuk masalah keselamatan kita bisa berpijak pada “ dimana bumi dipijak maka disitu langit dijujung” dimana anda sekarang berada maka anda harus menghargai orang yang ada disekeliling anda, baik budayanya dan lain-lainya…Wallahu a’lam

Akhirul kalam semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk menambah wawasan bagi kita semua..

Wasalam

Fathul ahadi

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS