Zikir Dan Doa Pembuka Rejeki

zikir dan doa pembuka rejekiDoamustajab2.com-Zikir itu intinya adalah mengingat Allah setiap saat. Bukan hanya komat-kamit membaca serangkaian kata-kata dalam bahasa Arab tapi hendaknya harus mengerti arti atau maknanya.

Zikir itu adalah jalan pintas atau jalan termudah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena zikir tidak terbatas ruang dan waktu. Setiap saat kita bisa melakukannya. Bukan hanya setelah shalat fardhu bahkan saat menunggu maupun di sela-sela aktivitas kerja kita bisa berzikir.

Berzikir dan berdoa adalah amalan Ibadah yang dicintai Allah. Karena itu sangat dianjurkan kepada kita kapan saja dan di mana saja, pada saat apa pun sebaiknya kita jangan lupa berzikir kepada Allah. Tidak peduli panas, hujan, mendung, atau panas terik, zikir tetap dianjurkan.

Intinya, jangan sampai kita lalai dari berzikir kepada Allah Swt. Memang tidak ada ketentuan bahwa zikir harus diperbanyak saat kucuran rezeki mampet atau ketika utang bertumpuk. Bahkan zikir sebaiknya kita lakukan justru di waktu senang sebagai rasa syukur kita selalu mengingat Allah. Intinya lagi, bibir mesti selalu basah dengan lafaz-lafaz Zikir, yaitu kita senantiasa berzikir di mana saja dan kapan saja.

Zikir Dan Doa Pembuka Rejeki

Rezeki Allah itu fenomena yang tidak dapat dihitung dengan hitungan matematika karena sifatnya yang abstrak. Bukan wewenang kita untuk menentukan berapa banyak rezeki yang kita terima, tapi itu adalah wilayahnya Allah. Kita hanya memohon dan memantaskan diri untuk menerima.

Baca Juga : AMALAN UANG DALAM SAJADAH

Jangan Berputus Asa dari Rezeki

Allah Swt. berfirman:
Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (QS. Fushilat (41): 49).

Janganlah berputus asa pada rezeki Allah, pesan Imam Ahmad bin Hambal. Pesan imam mi bukan tanpa bukti. Diceritakan tentang kisah Rasulullah Saw mengenai seekor ulat yang hidup di dasar laut atas rezeki Allah Swt. Ketika itu, Rasulullah sedang mengadakan acara walimatul ‘ursy dengan seorang wanita sebagai istrinya.

Saat para sahabat yang diundang menyaksikan makanan yang dijamukan Rasulullah, mereka membincangkan dan mana Rasulullah akan menghidupi istri-istrinya. Maklum, jamuan walimahnya saja begitu sederhana

Usai shalat berjamaah, Rasulullah lalu bercerita tentang masalah rezeki kepada para sahabatnya yang diundang itu. “ini kisah yang disampaikan oleh MalaikatJibril, boleh aku bercerita?” tanya Nabi. Para sahabat pun langsung mengiyakan dengan penuh antusias.

Lalu, berceritalah Nabi Saw. tentang Nabi Sulaiman yang sedang shalat di tepi pantai. Sulaiman melihat seekor semut berjalan di atas air sambil membawa daun hijau seraya memanggil katak. Setelah itu, muncullah katak dan menggendong semut menuju dasar laut.

Apa yang terjadi di dasar laut?

Semut menceritakan bahwa di dasar laut itu berdiam seekor ulat yang soal rezekinya dipasrahkan kepada semut itu. “Sehari dua kali aku diantar malaikat ke dasar laut untuk memberi makanan kepada ulat,” kata semut.

Siapa malaikat itu?” tanya Nabi Sulaiman As.

Ya yang menjelma menjadi katak itu,” jawabnya. Setiap usai menerima kiriman daun hijau dan memakannya, si ulat mengucapkan syukur kepada Allah. “Maha Besar Allah yang menakdirkan aku hidup di dalam laut,” kata ulat.

Setiap selesai menerima kiriman daun hijau dan melahapnya, si ulat tak lupa memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT, ” Maha Besar Allah yang men-takdir-kan aku hidup di dasar laut “.

Dalam mengakhiri ceritanya itu, Rasulullah SAW memberi pandangannya.

” Jika ulat saja yang hidupnya di dasar laut, Allah SWT masih tetap memberinya makanan, maka apakah Allah SWT tega menelantarkan umat Muhammad soal rejeki dan rakhmatnya ?”

(Dikutip dari Mutiara Hikmah 1001 kisah:1)

Baca Juga : AMALIAH MEMBUKA HARTA GAIB

Apa itu rejeki..??

Secara umum rezeki adalah segala pemberian yang dapat dimanfaatkan, baik material maupun spiritual, dunia maupun akhirat.

Artinya, makanan, pakaian, rumah, kendaraan, kesehatan adalah rezeki dan kecerdasan, ilmu dan hikmah adalah rezeki pula. Orang kaya harta tetapi enggan membayar zakat dan menolong orang yang kekurangan adalah contoh orang yang kaya rezeki lahiriah tetapi miskin rezeki batiniah.

Orang yang kekurangan makanan dan pakaian, tidak mempunyai tempat tinggal dan kendaraan, tubuhnya pun penyakitan tetapi hatinya selalu bersabar, tidak pernah mengeluh bahkan selalu taat kepada Allah swt dan bersyukur adalah contoh orang yang miskin rezeki lahiriah tetapi kaya rezeki batiniah.

Orang yang kaya harta tetapi tidak bersyukur bahkan bermaksiat kepada Allah Ta’ala adalah contoh orang yang kaya rezeki duniawi tetapi bakal miskin rezeki di akherat nanti.

Kita semua ingin menjadi orang yang kaya rezeki secara lahiriah dan kaya rezeki batiniah, dunia dan akherat. kalau pun tidak kaya bercukupan pun sudah luar biasa.

Apakah rezeki dapat bertambah..?

Bila kita amati makanan, pakaian, uang, kesehatan, ilmu atau hikmah yang kita peroleh dalam satu bulan saja, maka pastilah kita dapati terjadi penambahan atau pengurangan. Mungkin di satu sisi ada makanan beraneka rupa tetapi di sisi lain tubuh kita menderita sakit. Atau, uang bertambah tetapi ilmu tidak bertambah.

Dari sudut pandang agama, dengan mengamati dalil-dalil al-Quran dan hadits Nabi saw, kita dapat menyimpulkan bahwa rezeki seseorang mungkin saja meluas (bertambah) atau justru menyempit (berkurang)

” Allah meluaskan rezeki siapa saja yang Ia kehendaki dan menyempitkan (rezeki siapa saja yng Ia kehendaki)…” (QS.13: 26)

“Dan Allah memberikan rezeki kepada siapa yang ia kehendaki tanpa batas.” (QS.24: 38)

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Ia akan mengadakan baginya jalan keluar (dari kesulitan) dan memberinya rezeki dari arah yang tidak diduga.”
(QS.65: 2-3)

Abu Hurairah ra meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa suka rezekinya diluaskan dan umurnya dipanjangkan hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Tsauban ra meriwayatkan, Nabi saw bersabda,” Tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebaktian (al-birr) dan tidak ada yang dapat menolak takdir (al-qadr) kecuali doa. Seseorang itu benar-benar terhalang dari rezeki karena dosa yang ia perbuat.” (HR. Ibnu Majah dan al-Hakim, al-Hakim berkata: sanadnya sahih)

Baca Juga : BISMILLAH PEMBUKA REJEKI

Lantas para ulama pun kemudian membuat klasifikasi rezeki yang sudah pasti dan rezeki yang mungkin diperoleh manusia melalui perbuatan tertentu. Di antara ulama ada yang membagi rezeki menjadi empat macam:

1.Rezeki yang sudah dijamin

Ketika janin dalam kandungan berusia 120 hari maka Allah Ta’ala mengutus malaikat untuk meniupkan ruh ke janin tersebut dan mencatatkan empat hal, yaitu: umur, rezeki, perbuatan dan suka dukanya.

Rezeki yang dicatat ini adalah rezeki yang dijamin pasti akan didapatkan oleh orang tersebut karena bersesuaian dengan umurnya. Jika rezeki ini habis maka ajal pun tiba, atau jika sudah datang ajal maka rezeki ini pun habis

Jabir bin Abdullah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,” Janganlah kalian menganggap rezeki datang terlambat karena seorang hamba tidak akan mati hingga rezeki yang menjadi haknya sampai kepadanya. Oleh karena itu baguskanlah usaha, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram.”
(HR. Ibnu Hibban, berkata al-Arnauth: sanadnya sahih menurut kriteria Imam Muslim)

2. Rezeki yang di usahakan (kasab)

Rezeki jenis ini merupakan karunia Allah (fadhullâh) yang diberikan kepada siapa yang mencarinya. Allah Ta’ala menciptakan tangan dengan tujuan tertentu, demikian pula kaki, mata, telinga, mulut dan otak bahkan langit dan bumi.

Jika kita menggunakan ciptaan-ciptaan tadi sesuai tujuan penciptaannya maka itu merupakan bagian dari ungkapan syukur. Syukur ini pasti mengundang datangnya nikmat. Semakin optimal seseorang mengaktualisasikan potensi yang Allah berikan padanya semakin banyak pula curahan rezeki terlimpah padanya.

Karena itu meminta-minta adalah hal tercela dalam pandangan agama, kecuali bagi orang yang benar-benar miskin, bangkrut usahanya sampai ia bisa bangkit kembali dan orang yang dililit hutang. Selebihnya, orang harus bekerja menjemput karunia Allah Ta’ala, apalagi jika tubuhnya sehat dan kuat.

3. Rezeki yang dijanjikan

Rejeki jenis ini biasanya dikaitkan dengan suatu amal tertentu, misalnya sedekah, silaturahmi, niat yang benar, istighfar dan lain sebagainya.

Apalagi rezeki yang bakal diterima di akherat nanti sangat tergantung dari amal-amal yang telah dilakukan oleh seseorang. Point ini yang pada pembicaraan ke depan akan diperdalam guna meneliti amal-amal yang kiranya dapat membuka pintu-pintu rezeki.

4.Rezeki dari arah yang tidak diduga

Rezeki sebenarnya termasuk bagian dari rezeki yang dijanjikan tetapi karena keistimewaannya maka tidak salah jika dimasukkan dalam bagian tersendiri. Hanya ada dua amal yang dapat mengundang datangnya rezeki dari arah yang tidak diduga ini, pertama yang disebutkan dalam al-Quran, yaitu: Takwa dan yang kedua yang disebutkan melalui al-Hadits, yaitu: melanggengkan (dawam) istighfar.

Baca Juga : MEMBUKA REJEKI DENGAN SURAH YASIN

Al-Imam al-Suyûthî (semoga Allah merahmatinya) menulis tentang cara-cara membuka pintu rezeki berdasarkan hadits-hadits dalam sebuah risalah berjudul Hushûl al-Rifq bi ushûl al-Rizq. Beliau membagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama berupa dzikir-dzikir dan doa, sedangkan kelompok kedua berupa perbuatan-perbuatan.

Zikir dan Amalan Pembuka Rejeki

I.Kelompok zikir

1. Bacaan pertama yang termasuk ke dalam 7 zikir pembuka pintu rezeki adalah bacaan “LahawlaWala Quwwata Illa billah”. Menurut At-Tabrani, bacaan ini patut diucapkan jika seseorang lambat ditemui oleh rezekinya. Jadi, apabila Anda sudah berusaha keras akan tetapi rezeki tak kunjung menemui Anda, jangan ragu mengucapkan “LahawlaWala Quwwata Illa billah”. Dengan kepercayaan yang tinggi kepada Allah, niscaya rezeki yang dinanti-nanti akan langsung menghampiri Anda.

2. Bacaan kedua yang juga termasuk dalam doa pembuka pintu rezeki adalah kalimat “La Ilaha Illallahul Malikul Haqqul Mubin”. Menurut Abu Nu’Aim dan Ad Dailami, seseorang yang membaca kalimat ini setiap hari akan mendapatkan keamanan dari kefakiran serta rasa tenteram di dalam kubur. Jika Anda merasa bahwa Anda mungkin akan takut dalam kubur nanti, ucapkanlah kalimat ini untuk mengusir rasa takut tersebut. Niscaya ketentraman akan selalu mengisi rongga hati Anda.

3. Bacaan ketiga yang termasuk dalam dzikir pembuka pintu rezeki adalah kalimat yang hampir selalu kita ucapkan sehari-hari. Kalimat ini adalah kalimat istighfar. Menurut Ahmad, Ibnu Majjah, dan Abu Daud, dengan istighfar seseorang akan dibebaskan Allah dari segala kesulitan. Selain itu, Allah juga akan memberikan dia rezeki dari arah yang tidak terduga. Jika Anda dihampiri oleh kesulitan, banyak-banyaklah beristighfar untuk melancarkan rezeki Anda.

4. Bacaan yang juga akan mendatangkan rezeki Anda adalah bacaan dalam Surat Al-Ikhlas. Seseorang yang rajin membaca Surat Al-Ikhlas menurut At-Tabrani akan terhindar dari kefakiran dalam penghuni rumah maupun tetangganya. Tanpa kefakiran, rezeki juga akan dengan mudah menghampiri seseorang yang bersangkutan.

5. Surat lain yang perlu dibaca untuk mendatangkan rezeki pada Anda adalah Surat Al-Waqiah. Menurut Al-Baihaqi, seseorang yang rutin membaca Surat Al-Waqiah setiap malam akan dijauhkan dari kesempitan hidup. Saat Anda merasa hidup membebani Anda, mulailah membaca surat Al-Waqiah tiap malam, niscaya beban tersebut akan perlahan-lahan terlepas dari Anda.

6. Hal yang juga perlu dilakukan untuk memperbesar rezeki Anda adalah dengan memperbanyak Shalawat Ata Nabi. Berdasarkan riwayat Ubay, bila telah terlewati sepertiga malam, Rasulullah SAW berdiri sembari berkata bahwa manusia harus berdzikir untuk mengingat Allah. Akan datang tiupan sangkakala kiamat pertama yang diikuti dengan tiupan sangkakala kedua. Pada saat itu pula akan datang kematian dan segala kesulitan. Karena itu, seorang Muslim perlu melakukan dzikir terus menerus.

7. Bacaan ketujuh yang perlu disebutkan adalah “Subhanallah wabihamdihi Subhanallahil adziim”. Kalimat itu niscaya akan memberikan Anda rezeki karena dari setiap kalimat bersangkutan, seorang malaikat bertasbih kepada Allah dan sampai hari kiamat pula pahala diberikan untuk orang yang mengucapkannya. Hal ini dinyatakan oleh seorang ulama bernama Al-Mustagfiri.

Baca Juga : DOA FULUS

II.kelompok amalan dan perbuatan

1. Istighfar dan Taubat

“Para ulama berkata, ‘Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga:

Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut.
Kedua, ia harus menyesali perbuatan (maksiat)nya.
Ketiga, ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi.

Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah. Jika taubat itu berkaitan dengan manusia maka syaratnya ada empat iaitu ketiga-tiga syarat di atas dan keempat, hendaknya membebaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya.

Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau sejenisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalasnya atau meminta maaf kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf.”

Beberapa nash (teks) Al-Qur’an dan Al-Hadis menunjukkan bahawa istighfar dan taubat termasuk sebab-sebab rezeki dengan kurnia Allah . Di bawah ini beberapa nash dimaksud:

1. Apa yang disebutkan Allah tentang Nuh yang berkata kepada kaumnya :
“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, nescaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’.” (Nuh: 10-12).

Muthrif meriwayatkan dari Asy-Sya’bi: “Bahawasanya Umar keluar untuk memohon hujan bersama orang ba-nyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, ‘Aku tidak mendengar Anda memohon hujan’. Maka ia menjawab, ‘Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih langit yang dengannya diharapkan bakal turun air hujan.

Lalu beliau membaca ayat:
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.” (Nuh: 10-11).

Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang sama. Dalam riwayat lain disebutkan:
“Maka Ar-Rabi’ bin Shabih berkata kepadanya, ‘Banyak orang yang mengadukan bermacam-macam (perkara) dan anda memerintahkan mereka semua untuk beristighfar. Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, ‘Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri.

Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh:
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, nescaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10-12).

“Dan (Hud berkata), ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, nescaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa’.” (Hud:52).

2.Taqwa

Para ulama telah menjelaskan apa yang dimaksud dengan taqwa. Di antaranya, Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani mendefinisikan: “Takwa iaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dan itu dengan meninggalkan apa yang dilarang, menjadi sempurna dengan meninggalkan sebahagian yang dihalalkan”.

Beberapa nash yang menunjukkan bahawa takwa termasuk di antara sebab rezeki, Di antaranya:
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah nescaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-nya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).

Dalam ayat di atas, Allah menjelaskan bahawa orang yang merealisasikan takwa akan dibalas Allah dengan dua hal:
Pertama, “Allah akan mengadakan jalan keluar baginya.” Ertinya, Allah akan menyelamatkannya sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu dari setiap kesusahan dunia mahupun akhirat.

Kedua, “Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Ertinya, Allah akan memberi-nya rezeki yang tak pernah ia harapkan dan angankan.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkat dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami seksa mereka di-sebabkan perbuatan mereka sendiri”. (Al -A’raf: 96).

Dalam ayat yang mulia ini Allah menjelaskan, seandai-nya penduduk negeri-negeri merealisasikan dua hal, yakni iman dan takwa, nescaya Allah akan melapangkan kebaikan (kekayaan) untuk mereka dan memudahkan mereka mendapatkannyadari segala arah.

Imam Al-Baghawi berkata, Ia berarti mengerjakan sesuatu secara terus menerus. Atau seperti kata Imam Al-Khazin, “Tetapnya suatu kebaikan Tuhan atas sesuatu.”

Jadi, yang dapat disimpulkan dari makna kalimat ” ” adalah bahawa apa yang diberikan Allah disebabkan oleh keimanan dan ketakwaan mereka merupakan kebaikan yang terus menerus, tidak ada keburukan atau konsekuensi apa pun atas mereka sesudahnya.

Syaikh Ibnu Asyur mengungkapkan hal itu dengan ucapannya: adalah kebaikan yang murni yang tidak ada konsekuensinya di akhirat. Dan ini adalah sebaik-baik jenis nikmat.”

“Pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai berkat.” Ayat ini, sebagaimana disebutkan Syaikh Ibnu Asyur untuk menunjukan banyaknya berkat sesuai dengan banyaknya sesuatu yang diberkati.

“Berbagai keberkatan dari langit dan bumi”. Menurut Imam Ar-Razi, maksudnya adalah keberkatan langit dengan turunnya hujan, keberkatan bumi dengan tumbuhnya berbagai tanaman dan buah-buahan, banyaknya haiwan ternak dan gembalaan serta diperolehnya keamanan dan keselamatan.

Hal ini karena langit adalah laksana ayah, dan bumi laksana Ibu. Dari keduanya diperoleh semua bentuk manfaat dan kebaikan berdasarkan penciptaan dan pengurusan Allah .”

3.Bertawakkal Kepada Allah

Termasuk di antara sebab diturunkannya rezeki adalah bertawakkal kepada Allah dan Yang kepadaNya tempat bergantung.
Para ulama –semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan– telah menjelaskan makna tawakkal. Di antaranya adalah Imam Al-Ghazali, beliau berkata: “Tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakkali) semata.”

Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Muba-rak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qhudha’i dan Al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab bahawa Rasulullah bersabda:

“Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, nescaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang petang hari dalam keadaan kenyang.”

“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, nescaya Allahakan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3).

Hakikat yang sesungguhnya dalam hal ini dapat kita katakan, “Sesungguhnya pengaruh bertawakkal itu tampak dalam gerak dan usaha hamba ketika bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya”.

Imam Abul Qosim Al-Qusyairi berkata: “Ketahuilah sesungguhnya tawakkal itu letaknya di dalam hati. Adapun gerak secara lahiriah hal itu tidak bertentangan dengan tawakkal yang ada di dalam hati setelah seorang hamba meyakini bahawa rezeki itu datangnya dari Allah. Jika terdapat kesulitan, maka hal itu adalah karena taqdirNya, dan jika terdapat kemudahan maka hal itu karena kemudahan dariNya.”

Di antara yang menunjukkan bahawa tawakkal kepada Allah tidaklah bererti meninggalkan usaha adalah apa diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya , ia berkata:
“Seseorang berkata kepada Nabi , Aku lepaskan unta-ku dan (lalu) aku bertawakkal?’ Nabi bersabda: ‘Ikatlah kemudianbertawakkallah’.”

Akhirul kalam.dengan mengabungkan atau menggunakan kedua hal di atas maka insya Allah rejeki kita akan selalu di luaskan oleh Allah S.W.T…aamiin.

Wasalam

Fathul ahadi

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS